BKSDA Terima Owa Langka dari Warga, Pemilik Mengaku Tidak Tega

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) seksi konservasi wilayah I Kota Lhokseumawe, menerima satwa langka jenis owa jawa berusia 2,5 tahun dari seorang warga di Kota Lhokseumawe, Senin (20/1/2020).

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKDSA) Aceh Kamarudzaman, dihubungi per telepon, menyebutkan binatang itu merupakan serahan sukarela dari masyarakat Kota Lhokseumawe. “Awalnya binatang ini dipelihara dari sejak bayi, namun setelah besar malah menjadi tidak tega karena hidupnya tidak bebas seperti di hutan,” ujar Kamarudzaman.

Kamarudzaman menambahkan, nantinya satwa tersebut akan dibawa ke Banda Aceh untuk dilakukan rehabilitasi, agar keberlangsungan hidupnya bisa terjamin dan selalu terjaga agar tidak punah.

Dia mengimbau masyarakat apabila ada yang memelihara satwa yang dilindungi, maka agar bisa langsung diserahkan ke Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKDSA), agar bisa terjamin keberlangsungan hidupnya. “Apabil ada masyarakat yang masih memelihara satwa yang dilindungi, maka segera serahkan kepada BKSDA.

Satwa-satwa yang dilindungi itu jumlah populasinya sangat terbatas, maka harus dilindungi,” tutur Kamarudzaman. Sekadar diketahui Owa dalam bahasa latin disebut Hylobates moloch, merupakan jenis primata anggota suku Hylobatidae dengan angka populasi antara seribu hingga dua ribu ekor dan tergolong paling langka di dunia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “BKSDA Terima Owa Langka dari Warga, Pemilik Mengaku Tidak Tega”, https://regional.kompas.com/read/2020/01/21/07515781/bksda-terima-owa-langka-dari-warga-pemilik-mengaku-tidak-tega.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Aprillia Ika

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tulisan terkait

Owa Jawa tinggal 4.000 individu!

Hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Owa Jawa di alam. Hal ini semakin diperparah dengan maraknya perburuan dan perdagangan bayi Owa Jawa untuk dijadikan peliharaan.