Saatnya Kembali ke Alam : Kemerdekaan Bagi Owa Jawa

Bersamaan dengan Hari Konservasi Alam Nasional, pada 10 Agustus 2024 lalu, satu keluarga owa jawa yang terdiri dari pasangan Nitnot dan Cepi bersama anak mereka Oke dan pasangan owa jawa Joan dan Mowgli akhirnya mendapatkan kemerdekaan mereka kembali. Kelima owa jawa tersebut berhasil dilepasliarkan di Gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar. Sebelumnya mereka telah melalui proses rehabilitasi yang panjang di Javan Gibbon Center dan proses habituasi di Gunung Puntang sejak bulan Juli.

Pelepasliaran ini merupakan salah satu bentuk upaya konservasi owa jawa yang terlaksana atas kerjasama Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat dan Yayasan Owa Jawa.

Owa jawa yang telah melalui proses rehabilitasi dapat dilepasliarkan saat hasil pemeriksaan kesehatan maupun perilaku mereka sudah dianggap siap untuk kembali ke alam. Proses habituasi menjadi salah satu jalan bagi mereka untuk beradaptasi dengan habitat yang akan menjadi tempat tinggal para owa selanjutnya. Kemampuan beradaptasi tersebut termasuk kemampuan mencari dan mengkonsumsi pakan alami juga kemampuan untuk melakukan vokalisasi. 

Begitu panjang dan berat perjalanan para owa untuk dapat kembali ke alam. Proses rehabilitasi, habituasi maupun reintroduksi bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Bahkan tidak semua owa yang direhabilitasi mampu kembali ke alam. Beberapa owa harus menghabiskan sisa hidupnya di pusat rehabilitasi karena adanya kendala kesehatan yang kemungkinan membuat mereka tidak mampu bertahan di alam.

Untuk itu, mari jaga owa jawa agar tetap aman di habitatnya. Biarkan mereka bebas berayun dari pohon ke pohon dan meramaikan hutan dengan nyanyian unik mereka. Biarkan mereka menjalankan tugasnya sebagai petani hutan dengan tetap berada di hutan. 

Selamat kembali ke alam, Nitnot, Cepi, Oke, Joan dan Mowgli. Semoga owa jawa tetap lestari.

Tulisan terkait

Owa Jawa tinggal 4.000 individu!

Hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Owa Jawa di alam. Hal ini semakin diperparah dengan maraknya perburuan dan perdagangan bayi Owa Jawa untuk dijadikan peliharaan.