Semarak Pagelaran Wayang Owa untuk Rayakan Hari Owa Sedunia

Hari Owa Sedunia jatuh pada tanggal 24 Oktober. Setiap tahunnya perayaan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya owa dan ancaman yang dihadapi seperti perburuan liar dan berkurangnya habitat asli di alam. Juga untuk mendorong upaya konservasi dan keterlibatan masyarakat untuk melindungi owa, sang penjaga hutan yang sangat pandai beratraksi di kanopi pohon.

Pada kesempatan kali ini, Yayasan Owa Jawa bersama organisasi-organisasi konservasi owa Jawa lainnya turut serta merayakan Hari Owa Sedunia dengan mengusung seni pertunjukan wayang. Semarak Pagelaran Wayang Owa ini diinisiasi oleh Yayasan Kiara dan Gibbonesia. Pada tanggal 21 dan 22 Oktober 2025, teman-teman fasilitator dari Yayasan Owa Jawa berkunjung ke SDN Babakan Kencana dan SDN 2 Cicurug untuk menyampaikan edukasi melalui pagelaran wayang owa kepada teman-teman cilik.

SDN Babakan Kencana

Disana, teman-teman fasilitator menampilkan cerita yang diambil dari buku cerita anak berjudul “Owa Butuh Hutan, Hutan Juga Butuh Owa” yang ditulis oleh Kak Rahayu Oktaviani dari Yayasan Kiara. Cerita disampaikan melalui media wayang yang menarik. Terlihat sebanyak 41 teman cilik dari SDN Babakan Kencana dan 38 teman cilik dari SDN 2 Cicurug begitu antusias menyimak pagelaran wayang owa yang dibawakan teman-teman fasilitator.

Melalui pagelaran wayang owa tersebut, teman-teman cilik berkenalan dengan satwa endemik owa jawa dan jadi tahu bagaimana peran owa jawa di hutan. Owa jawa si kera kecil yang senang berayun di kanopi hutan ternyata dikenal sebagai petani hutan, yang membantu proses regenerasi hutan melalui penyebaran biji buah yang mereka makan dan kemudian dikeluarkan kembali bersama kotoran owa jawa. Selain itu, teman cilik juga jadi tahu bahwa owa memiliki suara nyanyian yang indah di hutan. Dengan demikian, teman cilik dapat memahami pentingnya menjaga owa dan habitatnya.

Tulisan terkait

Owa Jawa tinggal 4.000 individu!

Hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Owa Jawa di alam. Hal ini semakin diperparah dengan maraknya perburuan dan perdagangan bayi Owa Jawa untuk dijadikan peliharaan.