Pada 17 Juni 2025 lalu, tim monitoring Yayasan Owa Jawa menemukan ada satu individu baru yang lahir dari keluarga owa yang dilepasliarkan di Gunung Puntang. Bayi owa jawa ini lahir dari pasangan Nitnot dan Cepi. Keduanya dilepasliarkan pada 17 Agustus 2024 bersama keturunan pertama mereka, Oke.
Nitnot dan Cepi adalah dua individu owa jawa yang sebelumnya telah melalui proses rehabilitasi di Javan Gibbon Center. Keduanya mengalami kecocokan saat proses penjodohan hingga akhirnya menjadi pasangan dan melahirkan keturunan pertama mereka, Oke. Setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kesiapan keluarga ini hidup di alam, mereka pun menjalani proses habituasi di Gunung Puntang. Hingga akhirnya berhasil dilepasliarkan tahun lalu.
Kelahiran bayi owa jawa pasca lepas liar merupakan berita bahagia. Hal ini menunjukkan suksesnya proses reintroduksi owa jawa terhadap alam liar di Gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar. Karena upaya pelestarian owa jawa bukan merupakan hal yang mudah.
Selain owa jawa harus melalui proses rehabilitasi yang panjang dalam jangka waktu yang tidak sebentar, pemilihan habitat yang akan menjadi rumah baru owa pun tidak kalah penting. Analisa keragaman hayati, kesediaan pakan dan identifikasi predator, hingga analisa sosial masyarakat di sekitar area reintroduksi perlu dilakukan untuk memastikan proses reintroduksi berjalan sesuai dengan harapan.
Tim monitoring dan patroli owa jawa pun senantiasa dikerahkan setelah proses lepas liar untuk memastikan owa jawa dapat hidup dan bertahan di habitat aslinya. Proses monitoring dilakukan untuk melihat kondisi owa jawa yang dilepasliarkan, sementara patroli dilakukan untuk melihat kondisi habitat yang menjadi rumah baru mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya.
Melalui kegiatan monitoring dan patroli, kita dapat mengetahui apakah owa dapat mencari dan mengkonsumsi pakan alami, tidak terpisah dari pasangannya dan bahkan mampu menghasilkan keturunan setelah dilepasliarkan. Selain itu, dapat diketahui pula bagaimana kemampuan vokalisasi owa jawa di habitatnya. Untuk owa betina, kemampuan melakukan great call/morning call sebagai penanda teritori sehingga menghindari konflik sesama keluarga owa jawa. Sedangkan untuk owa jawa, kemampuan bersuara pendek juga alarm call sebagai penanda adanya bahaya atau ancaman. Hal-hal tersebut menjadi parameter kesuksesan proses reintroduksi.




