Siapakah “Tersangka Utama” Covid-19?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Pandemi Covid-19 mampu merubah tatanan dan kebiasaan hidup manusia hampir di setiap penjuru dunia. Meski mortalitasnya kecil, Covid-19 menjadi fatal bagi beberapa golongan, seperti manula dan pasien dengan penyakit bawaan (autoimun, jantung, dan sebagainya). Ditambah fenomena pasien positif Covid-19 tanpa gejala, mereka yang nampak sehat namun tetap mampu menularkan virus tersebut pada orang lain (Carrier).

Jika semakin banyak orang tertular-dan tak terdeteksi, akan semakin banyak pasien yang memerlukan pertolongan medis. Skenario terburuk yang dapat terjadi adalah ketika fasilitas kesehatan kewalahan dan tidak mampu menampung para pasien. Angka mortalitas dapat melonjak tajam.

Untuk mencegah penyebaran, kini semua orang berupaya untuk melakukan physical distancing. Pemerintah pusat dan daerah pun ikut bergerak dengan kebijakan-kebijakannya demi memutus mata rantai virus ini. Ya, kita semua sedang sibuk melindungi diri untuk tidak terpapar Covid-19. Disaat para peneliti sibuk melakukan penelitian lebih dalam mengenai virus ini, kita sibuk dengan kampanye #physicaldistancing, #workfromhome, #learningfromhome dan sebagainya.

Zoonosis : cikal bakal covid-19

Sayangnya, perhatian akan “akar” dari merebaknya virus baru ini masih terbilang kecil. Itu pun kebanyakan berasal dari penggiat konservasi yang memang sudah lama menggaungkan akibat bahayanya mengganggu satwa liar dan alam.

Sebagai catatan, penelitian memang penting dilakukan. Seperti upaya untuk mencari pasien 0 yang sampai saat ini masih menjadi pertanyaan. Agar kita tahu bagaimana asal mula virus ini muncul sehingga tindakan preventif dalam dilakukan di masa yang akan datang. Dan melalui penelitian itulah kita tahu, bahwa virus covid-19 adalah dampak infeksi zoonosis. (Sumber http://www.internationalanimalrescue.or.id/virus-corona-hubungan-zoonosis-pasar-hewan-dan-perdagangan-satwa-liar-ilegal/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=virus-corona-hubungan-zoonosis-pasar-hewan-dan-perdagangan-satwa-liar-ilegal )

Mengenal zoonosis lebih dekat

Menurut WHO, zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan vertebrata terhadap manusia, pun sebaliknya. Itulah mengapa begitu banyak penggiat konservasi yang mengkampanyekan larangan berinteraksi dengan satwa liar-termasuk memburu, jual-beli dan memelihara apalagi memakannya.  Selain karena hal tersebut dapat mendorong kepunahan satwa liar yang dimaksud dan terganggunya ekosistem di alam, alasan utama yang tidak kalah penting adalah bahaya zoonosis itu sendiri.

Contoh paling dekat, Coronavirus. Virus ini dapat digolongkan menjadi 3 golongan luas. Golongan pertama dan kedua menginfeksi mamalia mulai dari kelelawar hingga manusia, sementara golongan ketiga hanya ditemukan pada burung. Coronavirus merupakan golongan virus yang luas, tetapi hanya 6 (229E, NL63, OC43, HKU1, MERS-CoV, dan SARS-CoV) yang hingga akhir 2019 diketahui menginfeksi manusia. Sementara 2019-nCoV atau SARS-CoV-2 atau Covid-19 merupakan jenis ketujuh yang menginfeksi manusia. Virus tersebut telah lama ada, namun terus berevolusi terhadap inang  barunya.

Bahaya zoonosis bagi manusia dan hewan

Tidak hanya berbahaya terhadap manusia, zoonosis juga berbahaya bagi satwa liar, khususnya golongan kera. Kesamaan genetik yang tinggi membuat satwa liar pun rentan terhadap penyakit-penyakit yang biasa menyerang manusia. Bahkan terkait Covid-19 ini, setidaknya sudah ada 4 kasus dugaan hewan yang terpapar, yakni anjing dan kucing di Hongkong, Kucing di Belgia dan Harimau di Amerika. Siklus penularan dari hewan terhadap manusia, kemudian dari manusia terhadap hewan adalah perihal serius yang dapat mengancam keselamatan keduanya. Sampai disini, sudah mulai terbayang?

Dampak informasi terkait covid-19 yang menyudutkan satwa liar

Sayangnya, kemunculan informasi mengenai asal mula timbulnya virus yang kerap diasosiasikan dengan satwa liar kini malah membahayakan satwa liar itu sendiri. Sebut saja ketika informasi covid-19 memiliki asosiasi dengan kelelawar, tak lama muncul berita pemerintah setempat membakar sejumlah kelelawar di pasar hewan. Ratusan kelelawar yang tentu saja tidak tahu menahu mengenai bahaya covid-19 terhadap manusia pun menjadi korban. Tindakan reaktif tersebut tentu bukan merupakan solusi bagi pandemi yang sedang melanda dunia. Melainkan sebuah pembantaian sia-sia yang malah memperkeruh suasana.

Atau ketika hasil penelitian lainnya muncul, yang menyatakan adanya asosiasi kuat antara Covid-19 dengan trenggiling. Tak lama muncullah berita dengan headline, “Trenggiling, tersangka utama covid-19”. Hal tersebut tentu dapat menimbulkan miskonsepsi yang dapat menyesatkan persepsi masyarakat. Kriminalisasi terhadap sejumlah hewan lagi-lagi bukan merupakan jawaban yang kita cari.

Satwa liar bukanlah tersangka covid-19

Mengapa? Karena satwa liar tak diberi kemampuan untuk berpikir kompleks layaknya manusia. Kehidupan satwa liar selalu terikat dengan insting naluriah mereka. Mencari makan jika lapar, berkembang biak saat tiba masanya memiliki keturunan, dan bersikap territorial saat merasa terancam. Tidak pernah ada cerita satwa liar mengganggu manusia tanpa adanya pemicu dari pihak manusia itu sendiri.

Manusialah yang mengambil satwa liar dari habitat asli mereka. Para pemburu bahkan tidak segan melukai atau membunuh induk owa jawa demi mendapatkan bayi lucu mereka. Memisahkan bayi dari induknya untuk kemudian dijadikan komoditas atas dasar tuntutan ekonomi.

Trenggiling yang kini menjadi kambing hitam pun tak ada bedanya dengan kisah owa jawa. Mereka tak pernah meminta diambil dari habitat asli mereka, hanya untuk dihidangkan di meja makan dengan alasan daging mereka mampu memberikan semacam khasiat yang tak pernah teruji kebenarannya.

Maka atas pandemi yang kini terjadi, siapakah tersangka utamanya?

Bagaimana dengan para pemburu satwa liar, para pelaku jual-beli satwa liar, dan mereka yang menghidangkan juga menikmati hidangan satwa liar?

Covid-19 bukanlah kasus zoonosis yang pertama kali, akankah manusia belajar?

Kasus zoonosis seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Meski penyebarannya memang tidak sedahsyat Covid-19 yang kini menggemparkan dunia. Masalahnya, manusia memang tidak pernah jera. Setelah pandemi ini berlalu, akankah ada perubahan yang nyata?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tulisan terkait

Owa Jawa tinggal 4.000 individu!

Hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Owa Jawa di alam. Hal ini semakin diperparah dengan maraknya perburuan dan perdagangan bayi Owa Jawa untuk dijadikan peliharaan.