Selamat Menikmati Kebebasan, Jowi, Cuplis dan Maral!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

22 Februari lalu merupakan hari yang istimewa bagi keluarga owa yang terdiri dari pasangan Jowi (jantan) dan Cuplis (betina) serta anak mereka, Maral. Pada hari itu ketiganya resmi menjadi satwa liar penghuni kawasan Gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar. Setelah melalui masa habituasi sejak Oktober 2018 lalu.

Jowi, Cuplis, Maral

Jowi dan Cuplis merupakan pasangan owa jawa yang dipertemukan di pusat rehabilitasi Javan Gibbon Center (JGC). Sebelum menjadi rehabilitan di JGC pada tahun 2008, Cuplis merupakan owa peliharaan yang diambil dari alam sejak bayi. Sedangkan Jowi bergabung pada tahun 2014. Keduanya pun berhasil dipasangkan pada tahun 2015.

Jowi

Menjadi owa rehabilitan tentu tidaklah mudah bagi Cuplis, maupun owa jawa lainnya. Khususnya dalam perihal memilih pasangan. Karena ketidakseimbangan rasio jantan-betina di pusat rehabilitasi, awalnya cukup sulit bagi Cuplis untuk mendapatkan pasangan. Selain itu, faktor kecocokan antar owa sangat beepengaruh teehadap tingkat keberhasilan proses penjodohan. Contohnya Cuplis, sebelum Jowi, ia pun pernah mengalami kegagalan dalam masa penjodohan dengan 2 jantan lainnya.

Cuplis

Maka, ketika owa jawa diambil dari habitat liarnya, banyak hal yang kita renggut dari kehidupan mereka. Salah satunya adalah kebebasan mereka dalam memilih pasangan dan berkeluarga. Owa jawa di alam memiliki banyak pilihan dan kesempatan dalam memilih pasangan untuk berkembang biak dan memastikan keberlanjutan spesies mereka. Owa jawa yang dipelihara tidak mendapatkan kesempatan itu. Padahal owa jawa bukanlah spesies penyendiri, melainkan membentuk sebuah keluarga. Mereka membutuhkan interaksi sosial dengan sesama owa jawa agar tidak mengalami stress.

Maral

Tidaklah mudah untuk melakukan rehabilitasi terhadap owa jawa. Meski demikian, berbagai upaya tetap dilakukan untuk mempersiapkan owa jawa agar dapat dilepasliarkan dan bertahan di alam. Tetapi tentu saja hal tersebut membutuhkan waktu yang tak sebentar dan biaya yang tak sedikit. Belum lagi efek ketiadaan owa jawa di hutan yang cukup berpengaruh terhadap proses regenerasi hutan. Sementara hutan memiliki peran penting dalam menyediakan oksigen dan air bersih bagi kita manusia. Maka ketika owa jawa diambil dari alam, manusia ikut mengalami kerugian.

Jadi.. bagaimana menurutmu? Masih mau memelihara owa jawa?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tulisan terkait

Owa Jawa tinggal 4.000 individu!

Hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Owa Jawa di alam. Hal ini semakin diperparah dengan maraknya perburuan dan perdagangan bayi Owa Jawa untuk dijadikan peliharaan.