Mari berkenalan dengan Irma, bayi owa Jawa betina yang baru saja menjadi anggota baru di keluarga besar Javan Gibbon Centre (JGC). Usianya kurang dari 1 tahun dan layaknya bayi pada umumnya tentu tempat terbaik bagi Irma adalah bersama ibu dan ayahnya. Namun apa daya, karena kecerobohan dan keegoisan manusia-manusia tidak bertanggungjawab, kini Irma harus hidup tanpa orangtuanya.
Tepatnya pada senin malam, 9 November 2015, JGC menerima informasi bahwa sepasang bayi owa Jawa (Hylobates moloch) akan diserahkan ke JGC. Pada pukul 22.50 WIB, Irma pun tiba di Lido bersama 1 bayi owa lainnya berjenis kelamin jantan. Sayangnya, bayi owa jantan itu tiba dalam keadaan tak bernyawa. Tidak mendapat asupan gizi yang memadai karena dipisahkan dari ibunya, usia yang terlalu muda dan perilaku ekstrim yang diterima dalam upaya penyelundupan menjadi pemicu rentannya kondisi bayi owa tersebut.

Kisah sedih Irma dan bayi jantan yang tidak dapat diselamatkan itu berawal pada tanggal 7 November 2015, saat keduanya hendak diselundupkan oleh seorang WNA asal Kuwait ke negara asalnya melalui penerbangan internasional banda Soekarno-Hatta. Dibeli di pasar Pramuka, pelaku kemudian mencoba menyelundupkan keduanya dengan mengikat mereka di betis kiri dan kanan. Beruntung, tindak kriminal itu dapat dihentikan oleh pihak berwenang, meskipun pada akhirnya hanya Irma yang berhasil selamat.
Kisah bergabungnya Irma dengan JGC, bisa dikatakan sebagai salah satu kisah paling sedih JGC dalam upaya merehabilitasi owa Jawa. Lihat saja wajah lugunya yang sarat dengan kesedihan, siapa pun yang masih memiliki nurani pasti akan iba melihatnya. Jelas, Irma adalah korban. Dan Irma bukanlah korban satu-satunya.

Perburuan satwa liar dilindungi ternyata memang masih marak dilakukan di masyarakat. Kurangnya kesadaran akan pentingnya eksistensi keragaman fauna di alam menjadi salah satu faktor utama hal tersebut. Berbagai alasan muncul sebagai pembenaran aksi tidak bertanggungjawab itu, misalnya faktor ekonomi. Para pemburu maupun penjual akan memberikan dalih bahwa tindakan mereka hanyalah sebatas upaya menghasilkan lembar-lembar rupiah untuk bertahan hidup.
Tidak terpikir bahwa yang mereka lakukan adalah serangkaian pemusnahan secara bertahap spesies yang mungkin hanya tersisa beberapa ribu individu saja di dunia. Tidak sadar bahwa tindakan itu akan menghasilkan efek domino yang berujung pada penghancuran planet bumi yang kita tempati. Karena setiap spesies yang menempati hutan memiliki fungsi masing-masing untuk menjaga kelestarian hutan. Contohnya owa Jawa, siapa sangka ternyata mereka berperan penting dalam proses penghijauan kembali hutan. Owa Jawa membantu menyebarkan biji-bijian sisa buah yang mereka makan ke tanah yang kemudian akan tumbuh menjadi pohon baru di masa depan.

Maka, sadarkah kita, ketika beberapa spesies langka di alam punah, manusia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengembalikannya ke dunia? Para pemburu satwa liar, penjual maupun pembelinya tidak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah jual beli yang tidak sepadan. Harga yang harus mereka bayar lebih dari sejumlah uang yang mereka tukarkan. Mereka sedang merenggut masa depan para penerus bangsa.
Jika kita rela mengorbankan pentingnya masa depan anak cucu kita hanya demi pundi-pundi kekayaan, pantaskah kita disebut manusia yang berakal?




