Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/owajawao/public_html/wp-content/plugins/elementor-pro/modules/dynamic-tags/tags/post-featured-image.php on line 36

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/owajawao/public_html/wp-content/plugins/elementor-pro/modules/dynamic-tags/tags/post-featured-image.php on line 36

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/owajawao/public_html/wp-content/plugins/elementor-pro/modules/dynamic-tags/tags/post-featured-image.php on line 36

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/owajawao/public_html/wp-content/plugins/elementor-pro/modules/dynamic-tags/tags/post-featured-image.php on line 36

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/owajawao/public_html/wp-content/plugins/elementor-pro/modules/dynamic-tags/tags/post-featured-image.php on line 36

Rambo : Owa Jawa yang Kehilangan Jati Dirinya

Mari berkenalan dengan Rambo, seekor owa Jawa berjenis kelamin Jantan yang menjadi penghuni terbaru di Javan Gibbon Center (JGC). Rambo diperkirakan lahir di tahun 2012 dan telah dipelihara sejak bayi. Pemilik pertama mendapatkannya dari proses jual beli satwa ilegal. Pada Desember 2015 lalu, ia sempat mengalami pergantian pemilik. Hingga akhirnya pemilik kedua menghubungi Tim Yayasan Owa Jawa (YOJ) dengan maksud menyerahkan Rambo secara sukarela untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi di JGC. Tanpa menunggu lama, pada 4 september 2016 pun, tim Rescue YOJ langsung meluncur ke lokasi di daerah Semplak, Bogor, menjemput Rambo di rumah sang pemilik kedua.

Saat teman-teman dari YOJ tiba di lokasi, yang menarik perhatian adalah rambut perak Rambo yang terlihat begitu bersih dan terawat. Ternyata, Rambo memang kerap mendapatkan perawatan rutin seperti dimandikan dengan shampoo. Bagi sang pemilik, Rambo terhitung sudah jinak. Ia dibiarkan berkeliaran di rumah dengan rantai di perutnya. Rambo juga sering disuapi makan, makanan kesukaannya adalah nasi dengan sayur bayam. Bahkan, sang pemilik juga menambahkan bahwa Rambo senang jika rambutnya disisir. Jika sang pemilik sudah memegang sisir, dengan patuh Rambo akan menghampiri lalu duduk membelakangi sang pemilik. Ia tahu, rambutnya akan disisir.

Siapakah Rambo? Pantaskah ia mendapat perlakuan seperti itu?

Ini adalah sebagian contoh kecil yang begitu miris. Jika Rambo adalah seorang anak kecil maka tidak jadi masalah ia mendapatkan perlakuan seperti di atas. Tapi pada kenyataannya, Rambo adalah seekor satwa liar yang diambil dari alam dan tidak seharusnya menjalani hidup seperti layaknya manusia. Ia berhak untuk hidup diantara pohon-pohon tinggi menjulang di hutan. Ia berhak untuk bersosialisasi dengan owa jawa lainnya dan kemudian berkembang biak.

Tidak perlu dipertanyakan lagi, seberapa besar rasa sayang sang pemilik terhadap Rambo. Tetapi rasa sayang itu begitu tidak pada tempatnya. Rambo, mungkin tidak paham siapa dirinya. Rambo adalah owa jawa yang telah kehilangan jati dirinya. Beruntung kini Rambo memiliki kesempatan untuk menjadi liar kembali. Untuk merasakan berayun dari pohon ke pohon, melantunkan nyanyian-nyanyian indah khas owa jawa dan bersosialisasi dengan sesama spesiesnya.

Tapi bayangkan jika ternyata di luar sana masih banyak Rambo-Rambo lainnya. Jika masih banyak dari kita yang terlibat jual-beli satwa ilegal. Tahukah anda, bahwa satwa liar itu diambil dari hutan dengan paksa? Dipisahkan dari keluarganya dengan paksa? Jika hal demikian terjadi pada manusia, tentu hal itu akan ramai di media massa.

Mengapa kita tidak bisa berlaku sama kepada mereka?

Padahal keberadaan para satwa di alam liar memegang peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Owa jawa contohnya. Satwa endemik pulau Jawa ini berperan dalam proses regenerasi hutan. Secara tidak langsung owa jawa membantu menyebar biji buah-buahan yang dimakan untuk kemudian tumbuh menjadi pohon baru. Bayangkan jika owa jawa lenyap dari setiap hutan. Sanggupkah kita menjaga hutan yang begitu luasnya?

Bersediakah kita untuk kehilangan salah satu spesies kera yang begitu cantik, unik dan langka ini?

Jika tidak, bukalah mata dan telinga, ingatkan teman dan keluarga untuk tidak memelihara owa jawa maupun satwa dilindungi lainnya. Biarkan mereka bebas di hutan sana, melakukan perannya, menjaga keutuhan hutan yang begitu penting bagi manusia sebagai sumber penghasil oksigen, air dan lain sebagainya.

Jika tidak sekarang, kapan lagi?

Tulisan terkait

Owa Jawa tinggal 4.000 individu!

Hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Owa Jawa di alam. Hal ini semakin diperparah dengan maraknya perburuan dan perdagangan bayi Owa Jawa untuk dijadikan peliharaan.